Beberapa negara telah melakukan tindakan pencegahan di perbatasan wilayahnya masing-masing dengan cara memeriksa suhu setiap pendatang demi mencegah orang yang terkena virus corona untuk masuk. Bisakah usaha ini berhasil?

Sayangnya, tindakan ini ternyata tidak mampu menghentikan penyebaran virus tersebut. Sebuah studi terkini mengatakan bahwa hampir setengah (46%) dari kasus virus corona akan lolos jika hanya dilakukan pemeriksaan suhu. Hal ini terjadi karena beberapa pendatang bisa saja sudah terinfeksi, namun belum menunjukkan gejala-gejala seperti demam.

Penelitian di beberapa lokasi pemeriksaan kedatangan dalam kasus wabah SARS dan flu pandemik yang lalu juga menunjukkan bahwa tindakan itu mengidentifikasi sangat sedikit kasus atau bahkan tidak ada sama sekali. Meskipun demikian, hal ini memberikan sebuah peluang untuk mengedukasi wisatawan tentang virus ini dan apa yang harus dilakukan ketika mereka mengalami gejala-gejalanya.

Pada tahap awal dari penyebaran virus, WHO menyarankan untuk melakukan tindakan pemeriksaan suhu terhadap penumpang yang meninggalkan area di mana terjadi penularan virus, contohnya China, tempat yang paling banyak terjadi penularan. Pemerintah Inggris mewajibkan semua penerbangan dan pelayaran dari negara berisiko tinggi untuk memberi pernyataan bahwa semua penumpang mereka sehat sebelum mendarat atau berlabuh.

 

Dari mana cerita ini berasal?

Beberapa negara telah melarang kedatangan yang berasal dari negara yang sangat terdampak oleh COVID-19. Beberapa negara lain sudah mulai melakukan tindakan pemeriksaan saat masuk seperti pemeriksaan suhu bagi penumpang yang datang dari negara berisiko tinggi. Di Wuhan, tempat di mana wabah ini dimulai, juga telah melaksanakan pemeriksaan suhu di bandara sejak tahap awal agar penumpang yang terinfeksi tidak meninggalkan kota tersebut.

 

Apa yang mendasari pernyataan ini?

Saat penyakit menular muncul, melarang orang yang terinfeksi untuk bepergian guna menghentikan penyebaran lebih jauh merupakan hal yang masuk akal, namun untuk mengidentifikasi orang yang sudah terinfeksi dengan cepat dan tepat merupakan sebuah tantangan. Untuk kasus penyakit menular yang menyebabkan demam, salah satu tekniknya adalah dengan memeriksa suhu penumpang saat mereka keluar atau masuk ke suatu negara. Teknik ini sudah pernah digunakan untuk pandemi influenza H1N1, Ebola, dan SARS (selain virus corona)

Bagaimanapun, sebuah tinjauan sistematik tahun 2019 menemukan bahwa bukti yang ada pada pemeriksaan masuk dan keluar untuk wabah penyakit menular menunjukkan bahwa tindakan pemeriksaan ini mengidentifikasi sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali untuk kasus penyakit menular seperti SARS. Sejumlah penelitian yang melaporkan biaya untuk pemeriksaan dalam kasus SARS dan flu pandemik mengatakan tindakan ini sangat mahal untuk diterapkan dan perlu membuat sebuah pertimbangan untuk menyalurkan dana tersebut untuk usaha yang lain.

Meskipun begitu, tinjauan tersebut juga melihat beberapa keuntungan dari tindakan pemeriksaan. Contohnya, hal ini bisa membuat orang yang sakit mengurungkan niat untuk bepergian, meningkatkan kesadaran dan mengedukasi orang-orang yang sedang bepergian, serta memungkinkan penerbangan dari area yang terinfeksi untuk tetap beroperasi.

Tinjauan tersebut juga menyarankan bahwa pemeriksaan saat keluar negara dijadikan prioritas utama dibandingkan dengan pemeriksaan saat masuk negara, serta menyadari bahwa hal itu secara umum telah direkomendasikan oleh WHO dalam kasus wabah yang sebelumnya.

Apa yang sumber terpercaya ungkapkan?

The European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) telah menyatakan bahwa “Ada bukti bahwa memeriksa penumpang di bandara (disebut pemeriksaan masuk) tidak terlalu efektif mencegah penyebaran virus, khususnya saat orang tersebut tidak menunjukkan gejala. Secara umum akan lebih bermanfaat jika setiap negara menyediakan informasi bagi penumpang yang datang tentang apa yang harus dilakukan jika gejala virus mulai muncul.”

WHO juga menyatakan hal yang sama bahwa pengukuran suhu saat pemeriksaan masuk saja tidak akan terlalu efektif. Jika tindakan itu diterapkan, mereka menyarankan bahwa pemerintah juga harus melakukan tindakan lain yaitu mengumpulkan informasi yang relevan dari para pendatang dan mempunyai sistem yang bisa bertindak dengan cepat saat data sudah terkumpul.

 

Analisis oleh EIU Healthcare

 

Kutipan

  1. Associate Press. Coronavirus: bandara di seluruh dunia melakukan pemutaran. The Guardian, 21 Januari 2020. https://www.theguardian.com/science/2020/jan/21/coronavirus-screenings-global-travelling-airport (Diakses 9 Maret 2020)

Daftar Pustaka

  1. Wabah sindrom pernapasan akut yang terkait dengan coronavirus baru, Tiongkok: penularan lokal pertama di EU / EEA - pembaruan ketiga. 31 Januari 2020. https://www.ecdc.europa.eu/sites/default/files/documents/novel-coronavirus-risk-assessment-china-31-january-2020_0.pdf (Diakses 10 Maret 2020)
  2. T & J pada COVID-19. 6 Maret 2020. https://www.ecdc.europa.eu/en/novel-coronavirus-china/questions-answers (Diakses 10 Maret 2020)
  3. Mouchtouri VA et al. Praktik Penyaringan Keluar dan Masuk untuk Penyakit Menular di antara Wisatawan di Tempat Masuk: Mencari Bukti tentang Dampak Kesehatan Masyarakat. Int J Environ Res Kesehatan Masyarakat 2019, 16, 4638. https://www.mdpi.com/1660-4601/16/23/4638
  4. Normile D. Mengapa skrining bandara tidak akan menghentikan penyebaran coronavirus. Sains, 6 Maret 2020. https://www.sciencemag.org/news/2020/03/why-airport-screening-wont-stop-spread-coronavirus (Diakses 10 Maret 2020)
  5. Quilty B et al. Efektivitas skrining bandara dalam mendeteksi pelancong yang terinfeksi novel coronavirus (2019-nCoV). Survei Euro. 2020; 25 (5): pii = 2000080. https://www.eurosurveillance.org/content/10.2807/1560-7917.ES.2020.25.5.2000080#html_fulltext
  6. Departemen Kesehatan dan Perawatan Sosial Inggris. Rencana tindakan Coronavirus: panduan untuk apa yang dapat Anda harapkan di Inggris. 3 Maret 2020. https://www.gov.uk/government/publications/coronavirus-action-plan/coronavirus-action-plan-a-guide-to-what-you-can-expect-across-the-uk (Diakses 10 Maret 2020)
  7. Pertimbangan utama untuk repatriasi dan karantina wisatawan sehubungan dengan wabah virus corona 2019-nCoV. 11 Februari 2020. https://www.who.int/news-room/articles-detail/key-considerations-for-repatriation-and-quarantine-of-travellers-in-relation-to-the-outbreak-of-novel-coronavirus-2019-ncov/ (Diakses 10 Maret 2020)